Jumat, 23 Oktober 2015

Ditengah Pesta Dansa



Di Tengah Pesta Dansa


Aku menatap  kartu undangan pesta ulang tahun nan manis di atas meja di kamarku. Pesta ulang tahun Anggun. Warnanya putih metalik, dihiasi pita emas, dan taburan glitter warna-warni. Harumnya … hmmm, seperti harum permen karet kesukaanku. Kartu undangan yang mewah. Sepintas kulihat kalimat di bagian bawah kartu.
Garden Party.
Dress Code:
RomanticWhite

Wow, kujamin, pesta ulang tahun ke-17 Anggun kali ini tak kalah megah dan meriah dibandingkan pesta ulang tahunnya yang  sebelumnya.
Anggun, temanku sekolahku, seorang gadis berkulit putih mulus bak pualam dan berwajah  cantik seperti manekin yang kerap dipajang  butik-butik  pakaian mahal dan bermerek. Wajah dan postur tinggi semampainya mewarisi gen ibunya yang keturunan Jerman. Sementara, tutur katanya yang lembut berasal dari didikan ayahnya yang asli Yogya. Konon katanya, ayah Anggun masih ada hubungan saudara dengan sultan  keraton Yogya. Jadi, Anggun  memiliki darah biru alias keturunan bangsawan. Ck ck ck!
Anggun putri  tunggal  dari lingkungan keluarga berada. Ayahnya pemilik sebuah perusahaan raksasa yang bergerak di bagian penyediaan komputer dan alat-alat perkantoran. Ibunya aktif dalam pengelolaan yayasan sosial yang mereka miliki. 
Kadang-kadang aku iri dengan temanku itu. Tak terhitung jumlah cowok yang mengejar-ngejar dirinya. Dari mulai Sahat, ketua OSIS yang ganteng; Bram, redaktur buletin sekolah yang pintar; Aldi, sang pemain piano klasik yang andal; sampai Vino, pemegang medali perak olimpiade matematika yang pernah diadakan di Bulgaria. Kurang apa mereka coba? Tapi, tak ada satu pun cinta mereka yang diterima Anggun. Cowok-cowok itu harus mundur teratur karena ditolak. Anggun selalu berkata kalau dia belum ingin pacaran karena ingin menamatkan sekolahnya dulu, lalu melanjutkan kuliah jurusan Ekonomi Akuntansi di sebuah universitas ternama di Jakarta, terus mengambil gelar Master of Finance di Australia. Mungkin alasannya klise bagi orang-orang, tapi tidak bagi Anggun. Dia benar-benar serius mengejar cita-cita. Belajar keras, rajin ikut les privat ini itu. Di kelas, Anggun selalu menduduki peringkat kedua (hohoho, kalau mau tahu, yang langganan peringkat pertama adalah aku!). Di mataku, Anggun adalah cewek yang ambisius. Dengar-dengar, ayahnya akan menyerahkan perusahaan itu kepadanya suatu saat kelak.
Anggun memang cantik, pintar, kaya raya, dan bertutur  lembut. Namun menurutku ya, nilai kepribadiannya agak  di bawah rata-rata. Habis, dia sering merendahkan orang lain, termasuk aku. Tak jarang aku dijadikan bahan olok-oloknya. Dia mengejek sepatuku yang butut, jam tanganku yang kuno, tasku yang belel, atau seragam sekolahku yang ditambal.
“Wah, wah … Teman-Teman, lihat, lihat, bajunya Tita cuakep beneeer ... tambal sulamnya itu lho, ndak kuaaat …!” demikian sindir  Anggun sambil tertawa. Teman-teman satu gengnya ikut cekikikan.  Masalah seragam, sebenarnya aku ingin membeli yang baru. Tapi kupikir-pikir, tahun depan aku tamat.  Tinggal sebentar lagi, kupakai saja yang ‘tambal sulam’ ini, toh tak masalah. Kalau mendengar ejekan Anggun, aku cuek saja. Aku tak pernah mau ambil peduli. Lama-lama dia pasti capek sendiri. Meski begitu, Anggun tak pernah bisa memusuhi aku. Bahkan terkadang kami bisa jadi teman akrab. Soalnya, dia sering merengek minta diajari pelajaran fisika atau kimia padaku. Nilaiku di kedua pelajaran itu hampir selalu sempurna. Salah dia juga, sudah jelas senang pelajaran ekonomi, eh malah masuk jurusan IPA. Nah, sama siapa lagi dia minta diajari kalau tidak sama aku? Sepertinya Anggun mengakui kalau otakku memang genius. Cukup belajar sebentar (sambil menikmati musik), semua soal-soal sulit, dapat terpecahkan olehku. Makanya, beasiswa dari sekolah pun dengan gampang jatuh ke pangkuanku. Hahaha …!
“Mamaaa …! Masak apa, Maaa ...?”
Aih, suara cempreng itu! Pasti Bang Faisal. Kayaknya  baru pulang kuliah. Lebih baik aku pergi. Aku ada janji dengan Pierre, sahabatku. Pierre itu sahabat sekaligus tetanggaku. Kami berteman sejak kecil. Dia cerdas, baik hati, dan … tampan. Ah, sudahlah.  A … aku malu menceritakannya sekarang …. A ... aku harus segera pergi. Jangan sampai dia terlalu lama menunggu.
***
Aku suka warna putih. Warna putih melambangkan kepolosan dan kesucian. Akhir-akhir ini, aku selalu memakai pakaian warna putih. Dan, di pesta ulang tahun Anggun nanti, aku sudah menyiapkan gaun putih yang sederhana, namun menawan. Hatiku sedikit berbunga-bunga. Aku yakin, kakak kelas kami, Kak Aura, diundang juga oleh Anggun. Mudah-mudahan Kak Aura mengajak sepupunya yang ganteng itu. Namanya Dylan. Yah, gantengnya beda-beda  tipislah dengan sahabat setiaku, Pierre.

Anggun memang selalu membuat sensasi. Tiap tahun dia memilih tema pesta yang berbeda. Ulang tahunnya pernah dirayakan di restoran eksklusif, vila asri, dan pantai.  Semua seru! Tahun lalu, Anggun merayakannya di sebuah ballroom hotel terkemuka di kota ini. Alamak, kue ulang tahunnya …tinggi sekali! Ada juga pahatan es dengan inisial A berukuran besar di beberapa pojok ruangan. Tamu yang hadir bukan hanya teman-teman kami, tapi juga dari kalangan pejabat dan artis. Pasti biaya pesta itu sangat mahal. Apalagi, Anggun mengundang grup musik Hijau Daun  yang sedang naik daun. Aku menikmati pesta itu. Bercanda bersama teman-teman, menikmati makanan enak, dan menari dengan iringan musik yang asyik … wuih … rasanya aku tak mau pulang! Dalam hati, meski Anggun kadang-kadang rada menyebalkan, aku dan teman-teman sependapat kalau pesta ulang tahun Anggun lebih kami nanti daripada pesta perpisahan sekolah. Hahaha …!
Dan, tahun ini, Anggun memilih tema pesta kebun.  Benar-benar nekat dia! Musim hujan begini malah mengadakan pesta kebun. Ayah dan ibunya pasti sudah memperingatkan. Tapi, bukan Anggun namanya kalau keinginannya tidak terpenuhi. Dengar-dengar, kedua orangtuanya sudah menyewa pawang hujan segala. Ya, jangan sampai hujan merusak suasana pesta nanti.
Aku meraba wajahku yang pucat, juga bagian bawah mataku. Duh, sulit sekali rasanya menghilangkan lingkaran hitam ini. Semakin hari rasanya semakin kelam saja. Aku tidak melihatnya di cermin, tapi aku bisa merasakannya. Hm, sebenarnya masalah kecil ini tidak perlu mengganggu pikiranku. Toh, teman-temanku juga tak akan mempermasalahkannya.
***
Pesta dimulai pukul tujuh malam. Aku tak ingin terlambat. Aku sudah berdandan sebaik mungkin. Pierre yang mengantarku. Abangku Faisal, si super-usil itu, pasti jam karet lagi. Lebih baik aku berangkat duluan bersama Pierre.
Pierre menolak masuk. Dia tidak begitu suka pesta. Pierre  mengantarku hanya sampai  di pintu gerbang rumah Anggun yang besar dan ramah. Pintu gerbang itu terbuka lebar, seolah mengajak masuk siapa saja yang ada di hadapannya. Berbagai karangan bunga ucapan selamat ulang tahun berjejer di sepanjang area pesta. Beberapa orang satpam sibuk mengatur parkir mobil-mobil berharga selangit.
Aku melangkah menuju taman belakang rumah Anggun yang luas. Tapak kakiku terasa seringan kapas. Gaun putihku melambai disapa bayu. Wow, ini baru pesta kebun! pekik hatiku girang. Kami disambut dengan dekorasi balon, bunga-bunga segar, dan ranting-ranting kering sebagai hiasan.  Indahnya obor-obor taman dan lampion aneka warna digantung di beberapa sudut pesta. Lampu-lampu taman bersinar temaram, memberikan nuansa romantis. Di dalam kolam renang, lampu taman juga menyala, sehingga menampilkan bayang-bayang air.
Para musisi di panggung menyanyikan lagu-lagu easy listening jazz. Kami terhanyut. Tamu-tamu tampaknya kompak mematuhi dress code. Mereka memakai busana putih dengan motif dan bahan yang beragam. Aku berjalan mengelilingi taman sambil tersenyum pada beberapa teman. Seperti biasa, teman-temanku tidak akan bertanya kenapa aku datang sendirian karena mereka sudah maklum kalau Pierre tidak pernah mau bergabung di  pesta. Sedangkan Bang Faisal, kalian tahu sendiri kan. Kalau menunggu dia, bisa-bisa aku datang saat pesta sudah bubar.
Au, itu dia Dylan! Dia ganteng sekali dengan kemeja abu-abu tua dibalut tuksedo putih. Aku mendekatinya. Ck ck ck, cowok seganteng ini ternyata hobi makan juga. Mulutnya sibuk mengunyah mashed potato, sedangkan di tangan kanannya tergenggam sepiring  fruit salad.  Di tangan kirinya, sudah menanti sepotong chocolate cake. Euuuw … perutku mendadak kenyang melihatnya!
Oh my God, Dylan! Kamu jangan malu-maluin Kakak dong! Ganteng-ganteng, kok, rakus!” omel Kak Aura.
Dylan tersedak, wajahnya memerah seketika. Aku tertawa geli. Wah, wah, wah, sepertinya dia harus kucoret dalam daftar ‘cowok favorit’ di agendaku!
Aku melambaikan tangan pada  Lili, Friska, dan Paul di kejauhan. Mereka duduk di kursi bersarung putih dengan ikatan pita di belakangnya. Kursi-kursi itu mengelilingi meja bundar. Di tengah keramaian aku menyapa mereka, setengah berteriak sebenarnya. Namun, suaraku seperti lenyap ditelan angin.
Aha! Dan itu dia si ratu pesta! Anggun mengenakan gaun selutut berwarna putih gading, dengan bahu terbuka. Gaun berbahan halus, mungkin sejenis sifon, aku tidak begitu yakin. Kakinya yang jenjang, sangat jelas terlihat. Penampilannya malam itu begitu memukau. Anggun cantik laksana boneka Barbie! Tiara mungil  –sungguh-sungguh berkilau- bertahta di rambutnya. Tamu-tamu mengucapkan selamat, memberi pelukan hangat dan akrab. Lagu Setahun Bertambah Usiamu mengalun syahdu. Sayang, Anggun menyerahkan potongan kue ulang tahun pertama kepada orangtuanya. Aku jamin, malam itu para cowok ramai-ramai patah hati. Malang nian, mereka cuma bisa menatap Anggun dengan mata tak berkedip dan mulut menganga …hahaha!
“Betul-betul pesta yang glamor!” Parlin terkagum-kagum. “Tapi, coba kalian usulkan pada Anggun, bagaimana kalau tahun depan pesta ulang tahunnya dirayakan bersama anak-anak tak mampu?” sambungnya. Parlin memang temanku yang berhati mulia. Hatinya gampang tersentuh, apalagi bila melihat orang yang kesusahan.
Meta mengangguk-angguk. “Bener banget  yang lo bilang. Keluarga   Anggun, kan, punya yayasan sosial. Masa mereka enggak pernah mengajak anaknya untuk ikut terlibat? Pesta hura-hura kayak gini memang keren. Tapi, ngerayainnya bersama anak-anak nggak mampu, pasti beda rasanya,” komentarnya bijak. Aku setuju dengan pendapat kedua temanku itu.
“Ya amplop … lusa, kan, kita ujian fisika!” Tiba-tiba Rudi, si kemayu, nyeletuk. “Bisa-bisanya, ya, malam ini kita seneng-seneng! Ntar lusa baru pada nyahok melototin soal-soal dari Pak Silalahi!” ujar Rudi. Syal putih di lehernya dikibas-kibaskan.
Kami semua tertawa. Rudi, teman kami yang satu ini memang selalu membuat suasana ceria. Di kelas, tubuhnya paling bongsor, tapi gayanya lemah gemulai. Ingin sekali aku mencubit gemas pipinya.
“Kalau ngomongin fisika, aku jadi ingat  Tita …,”  ucap Anggun yang tahu-tahu  sudah ada di belakang kami. Dia memandang Rudi dengan tatapan sendu. “Tita yang selalu mengajari aku fisika .…”
Semua langsung terdiam. Wajah mereka mendadak  layu. Hatiku jadi tak enak.
“Ya, kecelakaan sepeda motor yang tragis. Enam bulan berlalu, tapi bayangan Tita masih lekat dalam ingatanku,” gumam Parlin sedih.
“Semua sudah takdir. Sepeda motor yang dikendarai Pierre dan Tita ditabrak truk. Mereka tidak sempat menghindar. Kita kehilangan dua sahabat sekaligus ….” Meta meneteskan air mata.
Rudi memencet hidungnya yang berair dengan tisu, lalu hidungnya mengeluarkan suara ‘peeet’ yang panjang. “Menurutku, Pierre dan Tita  adalah soulmate. Pierre sudah lama naksir  Tita, meskipun Tita belum juga ngasih jawaban ‘iya’. Mereka itu pasangan yang serasi …,” sambung Rudi dengan suara tercekat.
“Oya, Bang Faisal mana, ya? Aku mengundangnya, tapi kok belum muncul?” desah Anggun, hampir tak terdengar.
Tuhan, aku tak sanggup menyaksikan pemandangan ini. Kristal di mataku mengapung. Aku masih rindu teman-temanku, tapi aku tak ingin melihat wajah mereka terluka. Sebaiknya aku segera meninggalkan pesta ulang tahun Anggun. Kakiku tak menjejak tanah sehingga tubuhku bisa melayang cepat. Angin malam membasuh dingin wajahku. Di halaman depan rumah Anggun, aku berpapasan dengan Bang Faisal yang berjalan tergesa. Ah, abangku ini memang selalu ngaret. Pesta sudah berlangsung dua jam, dia baru tiba. Bang, sekarang abang yang menempati kamarku. Rawat kamarku baik-baik ya …, batinku pilu.
Beberapa malaikat kecil bersayap telah menantiku di pintu gerbang. Di tengah-tengah mereka, ada Pierre, dengan tubuh menguar cahaya. Dia  menatapku dengan senyum teduhnya, meski wajahnya seputih kertas. Aku menyongsong Pierre.  Bersama kami melangkah menuju tempat peristirahatan terakhir kami .…

Dua kelopak krisan

Ini cerpen favoritku meski bukan Fajarina sendiri yang nulis
Dua Kelopak Krisan


Yang mungkin kuingat adalah derai hujan malam minggu itu, yang terdengar seperti detik jam dinding yang jatuh satu per satu dari langit, berusaha menyerang kita seperti kesepian. Aku tak sanggup membaui pohon-pohon Bintaro (yang konon beracun) yang berbaris rapi, menghormat dengan tegak dan gagah, tapi bau dan embusan napasmu yang terasa karib, tangan yang kokoh memayungi aku, membiarkan tubuhmu sendiri dihujani air-air sulfat itu entahlah, seperti cinta saja yang nyata-nyata telah mematahkan hatiku (bukan karenamu, tapi dia).

Sengaja aku menerima tawaranmu untuk singgah di Jurangmangu. Hanya alasan ketika kukatakan aku takut pulang sendirian ke Serpong, kereta sudah tak lewat, bus-bus biasanya sepi penumpang dan memungkinkan perempuan seperti aku diperkosa meski tanpa rok mini. Kau dengan cekatan segera mengatakan, “Tidur saja di tempat temanku. Perempuan. Nanti aku minta izin ke mereka....”

Aku tidak tahu bagaimana caranya mengungkapkan perasaanku yang ingin rebah di dadamu bukan karena cinta atau kekasih, tapi kau seperti pelabuhan dan dia seolah menara. Kau tak marah melihat aku acap kali gelisah menekan-nekan keypad ponselku dan suara laki-laki (aku yakin kau mendengarnya disebabkan kemampuan auditorimu itu) menyambutku dengan ketus, “Jangan telepon sekarang. Mas sedang memanjat tower!” Hanya karena sebuah menara (dan dia memang menara), aku seperti wisatawan yang baru pertama datang ke Paris menyaksikan Eifel menjulang angkuh di kerumunan orang-orang. Bingung. Tak bisa berbahasa Prancis, memakai ransel ala backpacker, memegang peta dan menengok ke segala penjuru seolah ingin memastikan, Hei Menara, apa kau melihatku di sini?

Pelan-pelan, dan sengaja memang kupelankan, aku ingin kau saja yang menyatakan cinta kepadaku kali ini. Kau, penyair, pencinta hujan, momen mana lagi yang paling romantis selain saat ini, selain kecupan yang kau daratkan dengan tiba-tiba (meski aku akan menyadarinya) di bibirku lalu memintaku jadi pacarmu. Aku akan menjawab “Ya” tanpa koma, melingkarkan kedua tanganku di pinggangmu dan tak peduli bilapun seluruh daun, seluruh hujan, seluruh udara malam ini cemburu. Pelabuhanku. Pelarianku. Sebuah kapal yang tertambat di sana, aku tak peduli jikapun kau hanya sekoci, kemudian membawaku pergi ke samudra lain, ke pulau lain, ke pemandangan yang menawarkan camar-camar lain, lumba-lumba lain, ombak-ombak lain yang tak akan sanggup menumbangkan laju biduk cinta milik kita.

Tapi kau selalu diam, seperti tak ada kata yang sanggup mengungkapkan perasaan yang ah, sudahlah, perempuan mana yang tak bisa mengetahui laki-laki yang jatuh cinta dan mencintainya? Aku sudah sejak dulu tahu, kau menaruh hati kepadaku. Kau yang lebih sering mendengarkan telepon-teleponku berjam-jam lamanya, menjemputku di BSD, menemani setiap ada acara sastra yang melibatkanku sebagai pembaca puisi. Aku tak pernah menyaksikanmu membaca puisi, tapi aku tahu kau menyukai pembacaanku.

Jurangmangu. Pukul 11 malam. Tapi tak ada pelukan.

Kau malah menunjuk ke Santiago Berdebu (lapangan sepak bola di depan Mesjid yang tak pernah ditumbuhi rumput, dan bila dimainkan debu-debu akan beterbangan seiring langkah-langkah yang ditapakkan), kemudian bercerita nyaris setiap malam akan ada berpasang kekasih yang memadu cinta di sekitarnya. Bahkan, katamu lagi, pernah ada yang gelap-gelapan bercumbu atau malah bercinta di sana. “Tapi jelas tak mungkin dalam keadaan hujan begini,” kau menambahkan sambil menatap mataku dalam. Ayolah, cium aku saat ini. Cium aku agar aku dapat melupakan lelaki itu, lelaki yang jelas-jelas telah memiliki perempuan lain namun mengatakan cinta kepadaku. Bodohnya aku seperti mangsa yang terjerat di jaring laba-laba, menunggu dia melahapku. Pasrah.

Hanya kau barangkali, yang kukenal karib, seperti tanpa pamrih mendekatiku dengan hati-hati, enggan menyentuhku, bahkan menggenggam erat tanganku pun tak pernah.
“Aku menyukai perempuan yang tak memiliki bekas bibir orang lain di bibirnya.”
“Kau menyukai Hamsad Rangkuti? Maukah kau menghapus bekas bibirnya di bibirku dengan bibirmu?”
“Ya. Dan tidak.”
“Maksudmu?”
“Aku menyukai Bibir dalam Pispot sebagai sebuah fiksi. Tapi, aku tak menyukai perempuan yang pernah berciuman dengan laki-laki lain.”
“Lalu menurutmu apa aku sudah pernah memiliki bekas bibir lelaki di bibirku?” aku bertanya memancing.

Kau diam sebentar sebelum balik bertanya, “Lalu bagaimana rasanya?”
“Aku masih 18 tahun.”
“Aku juga 19 tahun.”
“Aku tidak bertanya umurmu. Aku hanya bermaksud mengatakan perempuan mana yang sudah berciuman di usianya yang ke-18?”
“Tapi, rata-rata kita ingin mendapatkan ciuman pertamanya di usia ke-17.”
“Kamu sendiri?”
“Menurutmu?”
Apa rata-rata mahasiswa STAN sepintar dirimu, terutama dalam memutaralikkan pertanyaan, memutarbalikkan perasaan?
Aku bukan perempuan bodoh. Tapi, setiap berbicara denganmu aku merasa bodoh. Aku bukan perempuan manja. Tapi, setiap berhadapan denganmu aku selalu ingin menyandarkan diri ke dadamu yang bidang. Dan merasakan seberapa cepat detak jantungmu berderap di telingaku. Aku ingin memilikimu, tapi aku tak mencintaimu. Aku ingin kau selalu ada di sampingku, hanya milikku.
“Krisandi...”
Hanya kau yang memanggilku dengan nama depan. “Kenapa kau memanggilku dengan nama itu?”
“Krisanthemum.”
“Krisanthemum?”
“Dalam bahasa Yunani, krisanthemum berarti bunga emas. Yang tertua dari mereka adalah krisanthemum Cina, agak mirip dengan Daisy. Bunga ini telah dikultivasikian sekitar 2500 tahun sebelum diperkenalkan ke Eropa dan sekarang ia telah banyak ditanam di mana-mana, bahkan krisan juga diangkat menjadi bunga nasional negara Jepang. Sebagai bunga potong, ia bisa bertahan sampai lebih dari 2 minggu. Dan seperti kelahiranmu, bunga krisan dijadikan sebagai bunga November, seperti batu topaz. Menurut ilmu feng shui, krisan dapat membawa kebahagiaan dan tawa di dalam keluarga. Ia juga bisa berarti keceriaan, pesona, optimis, kelimpahan, keberuntungan, persahabatan dan cinta rahasia.”
“Wow, apa yang tidak kau tahu?”
“Ada.”
“Apa?”
“Adakah yang lebih pedih dari Sisyphus?”
“Sisyphus?”
“Sisyphus barangkali adalah manusia yang paling menanggung kepedihan di dalam hidupnya.”
Teruskan.
“Jika atas nama dosa dan pengorbanan, ia harus mendorong sebongkah batu ke atas bukit, menggelinding, mendorong lagi sepanjang hayatnya, apakah mencintai juga harus sebegitu menderitanya?’
Aku tak paham.
“Aku begitu mudah jatuh cinta. Tapi aku tak pernah yakin mampu mencintai.”

Memang tak pernah mudah mencernamu. Atas nama Hegel yang sering kau dengung-dengungkan, aku hanya butuh tatapan milikmu itu hanya ditujukan kepadaku. Sudahlah, tak usah banyak berpikir tentang masa lalumu, yang sering kau singgung begitu penuh luka. Hidupku juga penuh luka.

Aku mulai mengerti ayahku tak pernah menyentuh ibuku lagi sejak aku tahu apa itu suami-istri. Dan ketika teman-temanku mulai mengejekku karena ibuku adalah istri kedua dari ketiga istri ayahku, aku memutuskan untuk tidak pernah lagi berairmata. Bahkan bisa dihitung dengan jari berapa kali aku berbicara dengan ayah. Sementara ibuku, mengulum senyumnya (yang aku tahu palsu) setiap saat aku menyebut kata “ayah”.

Kau juga tidak tahu, kalau kehidupanku tidak seberuntung dirimu yang mampu lulus STAN dan SPMB sekaligus. Aku tak lulus keduanya. Padahal, sekali lagi, aku bukan perempuan bodoh. Dalam tiga tahun pendidikan SMA, setidaknya tak pernah sekali pun aku keluar dari 5 besar, dibandingkan dirimu yang pernah menduduki ranking 14 ketika kelas 1 SMA. Aku hanya sial. Tidak beruntung. Ketika teman-temanku yang sama nasibnya mulai menjajaki pendidikan swasta di universitas, aku memutuskan pergi sendiri ke Jakarta (dari Yogyakarta), dengan berbekal alamat kakak sepupu. Dan bekerja.

Yang pasti, aku tak ingin bernasib sama dengan ibuku. Aku tak mau diduakan. Begitu tega Tuhan yang berkuasa membolak-balikkan hati manusia membuatku mencintai dia. Jika manusia berkuasa mengubah nasibnya sendiri, izinkan aku dicintai olehmu. Biar nanti, aku tahu aku akan bahagia bila hidup denganmu.

“Sebentar lagi kita sampai...”
Secepat itu?
“Rumahnya ada di belakang mesjid ini.”

Ponselku bergetar lagi. Dia. Dewi, Mas kedinginan. Sebuah pesan singkat yang benar-benar singkat. Bahkan tak ada pertanyaan darinya sedang apa aku sekarang, bersama siapa, dan apakah aku juga kedinginan? Tak ada. Kenapa aku mencintai laki-laki seegois dia. Kenapa harus dia yang datang mengisi kekosongan itu.

Aku menatapmu. Aku membayangkannya. Kalian berdua sama-sama menyukai Hegel, membicarakan Descartes, membanding-bandingkan Goenawan Muhammad dan Saut Situmorang, atau membanggakan Umbu Landu Paranggi yang bahkan belum pernah kalian temui. Kau pelabuhan. Dan dia menara. Kau bertindak begitu hati-hati, terlampau hati-hati. Dia berani mengatakan apa-apa yang dia rasakan, melakukan apa-apa yang dia yakini.
“Jo?”

Tentu kau mengenalnya. Kau bahkan pernah bilang cinta kami platonis. Tapi, kau juga tidak mengakui bahwa cintamu kepadaku juga platonis. Love does not consist in gazing at each other but in looking outward together in the same direction. Kau diam, lalu seperti bergumam, Aku tak mau dikutuk-sumpahi Eros...

“Kau tahu hal apa yang paling membahagiakan sekaligus paling menyakitkan di dunia ini, Krisandi?”
Aku menggeleng.
“Mencintai.”
“Mencintai?”
“Ya mencintai, sementara kau tahu orang yang kau cintai telah mencintai orang lain..”
Hujan berhenti. Langkahmu terhenti.
“Kita sampai...”

Aku ingin menjawab, tapi kau buru-buru memalingkan muka. Memencet bel. Dan dua orang temanmu yang berjilbab lebar keluar, membukakan pintu dan pagar. Kalian berbincang sebentar. Kau bilang menitipkanku semalam. Lalu berpamitan.

Aku seharusnya tahu ketika malam itu kau berpaling, kemudian berlari-lari kecil menghindari genangan air di sepanjang jalan, tanpa memelukku, mengelus kepalaku, atau bahkan menyalami telapak tanganku, kau telah tak lagi bersikap sama. Pelan-pelan menghindar dan membiarkan cinta yang tak sempat kau ucapkan itu menguap, gugur seperti kelopak-kelopak krisan yang layu di hatiku.



Catatan Kaki:
Hegel : Filsuf klasik Jerman. Ia yang memunculkan gagasan bahwa Sejarah dan hal yang konkret adalah penting untuk bisa keluar dari lingkaran philosophia perennis, yakni, masalah-masalah abadi dalam filsafat. Ia juga menekankan pentingnya Yang Lain dalam proses pencapaian kesadaran diri

Platonis dan Eros adalah dua dari empat klasifikasi cinta (selain filia dan agape). Platonis diartikan sebagai Hubungan yang terjadi adalah antara jenis kelamin yang berbeda bagi orang yang menikmati satu sama lain tetapi tidak dapat memiliki hubungan romantis karena status perkawinan, agama, umur, pekerjaan atau peringkat. Mereka yang mengalami cinta ini tidak dapat bersatu dengan alasan yang tidak bisa ditembus tanpa mengalami proses menyakitkan. Eros adalah cinta karena gairah/mabuk cinta, ketertarikan yang kuat untuk memiliki.

coret coret



Terkadang aku bosan, jenuh, muak pada diriku sendiri. aku lelah dengan tingkah ku yang tak pernah mau berubah untuk tetap menunggu mu.kadang aku merendahkan diriku sendiri dihadapan akal sehat ku, aku yang masih sanggup menunggu dan bertahan untuk mu yang aku tak tahu apa yang kau rasakan tentang ku.

aku merasa aku bodoh, aku di kuasai perasaan ku, akal sehat ku terasa malu,
aku mencari-cari alasan mengapa aku seperti ini..?
kenapa aku bertahan menunggu kamu yang aku tak tahu tentang rasa mu padaku
hanya karena dulu kau katakan suka padaku.

aku selalu berfikir bagaimana menubah jalan fikiran ku, agar tak ada kamu lagi yang mungkin tak mau peduli tentang ku, namun akal sehat ku buntu tak bisa berfikir apa yang seharus nya aku fikirkan,
dan aku tersadar cintalah yang mengikat ku menjadi seperti ini, aku sadar aku lemah dihadapan cinta,
aku orang yang emosional, egois dan selalu berusaha tegas namun dihadapan cinta aku lemah,
emosi ku pudar ketegasan ku tak berjalan semesti nya,
aku sudah tersihir dengan rasa cinta ku kepadamu
iya, aku sudah benar-benar yakin bahwa aku mencintaimu.

aku akan tetap bertahan sampai kau bilang " tolong jangan mencintaiku"
itulah sebab nya aku masih bertahan disini, di tempat yang sama dengan harapan yang sama
rasa yang sama, do'a yang sama,
menanti kedatangan hati mu untuk hadir dalam kekosongan ini.
iya, aku menunggu mu dan masih menunggu mu, sejauh ini aku masih bertahan dan akan tetap bertahan.
***